Kenalan dengan Kue "Sultan" Palembang yang Penuh Makna
#BPNRamadan2024 #BPNRamadanDay15
Lebaran semakin dekat, persiapan untuk menyambut hari kemenangan ini pun sudah mulai dilakukan. Berbagai rencana turut dipersiapkan, mulai dari pakaian apa yang akan digunakan saat hari H, rumah-rumah siapa saja yang akan didatangi, hingga menu-menu khas yang akan disajikan baik untuk dimakan bersama keluarga maupun untuk tamu yang datang ke rumah. Seperti biasa, lebaran tahun ini keluargaku memutuskan untuk menggunakan jasa katering saat hari H lebaran karena kami baru tiba di rumah almh. Nenek di H-3 dan H-2 lebaran, tentu waktu yang sedikit ini mau kami gunakan untuk menjelajah pasar dan membersihkan rumah. So, dari pertengahan Ramadan kemarin ibuku sudah menyusun daftar makanan yang akan dipesan, termasuk aneka kue basah khas Palembang.
Palembang memiliki banyak sekali makanan khas, entah itu makanan berat, snack seperti kemplang, minuman, hingga kue-kue basah. Aneka kue basah khas Palembang ada banyak macamnya, tetapi yang menjadi khas untuk acara-acara besar seperti lebaran ada dua jenis kue, yaitu maksuba dan kue 8 jam. Karena kue maksuba sudah pernah aku bahas di #BPNRamadan2022 lalu, jadi kali ini aku mau bahas tentang kue 8 jam.
Eh, kenapa judul artikelnya "Kenalan dengan Kue 'Sultan' Palembang? Emangnya kue ini kue orang kaya?
Hihihihi. Tidak berlebihan rasanya kalau aku menamai kue 8 jam ini sebagai "kue sultan". Selain karena memang hanya disajikan untuk acara besar seperti hari raya dan pernikahan, kue 8 jam ini punya sejarah panjang sejak zaman Kesultanan Palembang Darussalam. Di zaman itu, kue 8 jam disajikan dalam tradisi Rumpak-Rumpak atau tradisi Sanjo yang berarti acara silaturahmi ke rumah keluarga atau tetangga saat lebaran. Tujuannya agar kita selalu ingat bahwa hubungan baik antar sesama manusia tidak boleh putus dan penyajian kue ini sebagai bentuk penghormatan kepada tamu-tamu yang berkunjung.
Filosofi kue 8 jam sebagai "kue sultan" turut diperoleh dari proses pembuatannya yang cukup memakan waktu. Sesuai namanya, kue ini membutuhkan waktu pembuatan selama 8 jam. Tidak boleh lebih dan tidak boleh kurang karena akan memengaruhi kepadatan, tekstur dan warna kue yang khas. Dengan durasi selama ini tentu membutuhkan bahan bakar yang tidak murah, apalagi kalau bikin kuenya lebih dari satu loyang. Meskipun dibuat dengan menggunakan bahan-bahan yang cukup sederhana seperti margarin, kental manis, telur, dan gula, tetapi dibutuhkan telur dengan jumlah yang fantastis: 20 butir telur!. Untuk ukuran zaman dahulu, tentu bahan-bahan ini cukup mahal dan hanya mampu dibeli oleh masyarakat kalangan atas.
Menurut seorang budayawan yang masih memiliki keturunan Kesultanan Palembang Darussalam, Raden Muhammad Ali Hanafiah, nama kue 8 jam diambil dari pembagian waktu dalam satu hari. Satu hari terdiri dari 24 jam, idealnya kita membagi waktu berdasarkan kegiatan yang dilakukan: 8 jam untuk bekerja, 8 jam untuk istirahat, dan 8 jam untuk beribadah. Hal ini merupakan keseimbangan dalam kehidupan. Setelah bekerja dan beristirahat, kita wajib mensyukuri nikmat kehidupan yang telah diberikan Tuhan YME dengan beribadah kepada-Nya.
Selain itu, bentuk kue yang padat juga memiliki filosofi perjuangan dan kesabaran. Kenapa? Karena proses memasaknya membutuhkan waktu 8 jam pas! Sungguh dibutuhkan kesabaran untuk berjuang menyelesaikan satu adonan kue saja, apalagi zaman dahulu listrik tidak seperti sekarang, mau masak kue harus cari kayu bakar banyak-banyak agar api tetap terjaga hingga kue matang. Panci yang digunakan pun panci jadul yang mana harus ekstra hati-hati memerhatikan api agar panci tidak gosong.
Jadi, tidak heran kalau aku dan sebagian orang Palembang lainnya menjuluki kue ini sebagai "kue sultan" karena proses dan sejarah kuenya yang sangat berharga, betul tidak?.
- Siapkan loyang, letakkan alas roti dan lumuri dengan margarin/mentega yang sudah dilelehkan
- Siapkan wadah/baskom, masukkan gula, margarin/mentega, dan kental manis, aduk rata
- Siapkan wadah satu lagi, kocok seluruh telur hingga rata.
- Setelah rata, masukkan telur ke wadah adonan kue tadi kemudian aduk rata. Ingat, diaduk ya, bukan dikocok.
- Tuang adonan ke loyang hingga penuh. Tutup loyang agar kue tidak keluar dari permukaan.
- Kue siap dikukus selama 8 jam
- Setelah siap dikukus, siapkan oven dengan suhu kurang lebih 180 derajat, api atas bawah.
- Panggang kue dengan waktu yang disesuaikan (biasanya sekitar 40 hingga 50 menit) agar kue lebih tahan lama
Referensi Artikel:
https://wartahimahi.com/2022/article/kue-delapan-jam-lambang-keseimbangan-warisan-kesultanan-palembang-darussalam/
https://www.goodnewsfromindonesia.id/2022/10/25/kue-delapan-jam-palembang-si-manis-yang-filosofis
https://kumparan.com/urbanid/cara-membuat-kue-delapan-jam-khas-palembang-yang-legit
aku belum pernah coba kue ini, keliatan enak :9
ReplyDeleteRasanya seperti Pa ya kue ini? Penasaran sepertinya lembut dan kenyal. JDi. Satu. Lama juga proses buatnya
ReplyDeletembak itu 8 jam waktu memanggangnya atau keseluruhan waktu membuatnya ya? jadi penasaran juga sama kue ini karena dulu juga pernah baca tapi nggak terlalu paham sama proses membuatnya yang 8 jam itu
ReplyDeleteMembayangkan proses membuatnya sampai 8 jam saja udah pasti hasilnya enak dan makannya ditemani sama kopi/teh
ReplyDeletePenasaran sama rasa kue nya. Kapan-kapan pingin coba ah.. mungkin enak sekali apalagi kue sultan..
ReplyDeleteIni baru tahu ada kue namanya kue 8 jam, mungkin karena caranya yg harus kukus selama 8 jam. Menurutku gampang juga buanya tapi riewuh banget sich.
ReplyDeleteBaru tahu perihal kue sultan ini. Namanya juga masih asing di telinga saya, Maksuba. Dalem banget filosofinya, delapan jam untuk bekerja, delapan jam untuk istirahat, dan delapan jam untuk ibadah.
ReplyDeleteTernyata ada filosofinya ya dalam pembuatan kue 8 jam ini. Ada filosofi keseimbangan hidup, masing2 waktu memiliki fungsi dalam hidup.
ReplyDeleteKalau saya pribadi kayaknya takut mau nyobain bikin. Telurnya banyak banget heuheuuu... icip aja deh klo ada yang bikin :)
filosofi kuenya, mashaAllaa ya....
ReplyDeleteKue 8 jam atau kue Sultan bikinnya aja penuh lika-liku. Jadi setelah ada kuenya, dengan penuh rasa syukur menikmatinya.
kalau melihat dari bahan kuenya, kebayang lembutnya mih kue 8 jam, telur 20 butir itu lebih dari sekilo lo, pantas sih disebut kue sultan, belum lagi dikukus selama 8 jam, jadi penasaran banget dengan rasanya, apkaah betul tebakan saya ya
ReplyDeleteWah anakku bakalan heboh sendiri nunggu 8 jam untuk menikmati kue ini
ReplyDeleteKalau lihat penampakannya sepertinya lembut dan manis ya
Pengen coba
Penuh perjuangan untuk membuatnya ya mbak. Kue kue jadul biasanya kayak gini, tapi rasanya enak. Jadi penasaran mau coba 'kue sultan' ini.
ReplyDelete